JUBILEUM 125 TAHUN HKBP SIBUNTUON RESORT BALIGE

JUBILEUM 125 TAHUN  HKBP SIBUNTUON RESORT BALIGE
Jubileum

Rabu, 21 Juli 2010

Character Building Parguru Malua HKBP Sirisirisi-Diakonia HKBP

Character Building
Parguru Malua HKBP Sirisirisi-Diakonia HKBP

By: Pdt.Maruasas Nainggolan S.Si (Teol)


Pada hari Sabtu sampai Minggu tanggal 15-16 Mei 2010, 20 orang Parguru Malua HKBP Sirisirisi mengadakan pelatihan Character Building di Training Centre Yayasan Petrasa Porlak INRI (Inspirasi dan Refleksi Iman) Panji Bako Huta Tika II Sidikalang Dairi. Rombongan ini dipimpin oleh Pdt.Resort HKBP Sirisirisi Pdt.Haposan Sianturi S.Th bersama Inang Pendeta dan dua orang sintua.

Selama dua hari para Parguru Malua dilatih untuk bisa mengenal dan memaknai dirinya sebagai anak-anak Tuhan yang sudah dipilih sebagai saksi-Nya di tengah-tengah dunia ini mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Mereka semua sampai meneteskan air mata ketika menyampaikan komitmen masing-masing dan berjanji tidak akan melakukan dan mengulang kembali sifat-sifat dan kebiasaan buruk yang selama ini masih sering dilakukan.

Pelatihan ini di bina oleh Pdt.Maruasas S.P Nainggolan dan CPdt.Binsar Nababan dari Staf Departemen Diakonia HKBP. Dalam pelatihan ini juga, para parguru malua dilatih dalam hal Leadership (kepemimpinan), Team work (Kerjasama Tim).

Salah satu kelebihan Training Centre Petrasa, selain tempat pelatihan Character Building tempat ini juga diperlengkapi sebagai pusat pelatihan Pertanian dan Peternakan. Di sana Parguru Malua bisa belajar peternakan kelinci, ayam daging, ayam petelur, bebek, babi dan kerbau. Dan bagaimana kotoran ternak bisa dibuat menjadi pupuk kompos organik.

Para peserta yang mengikuti acara dan kegiatan ini sangat berkesan, mereka berharap bisa datang lagi untuk mengikuti pelatihan seperti ini. Apalagi anak-anak parguru malua, sebelum naik sidi perlu sekali dibuat acara seperti ini, karena dalam pelatihan ini karakter kita sebaghai anak-anak Kristen lebih dibentuk dan lebih dalam lagi mengenal Yesus Kristus. Dan kita semua disiapkan menjadi saksi-saksi-Nya di tengah dunia ini, dimanapun kita berada.
“Semoga HKBP punya Training Centre Porlak INRI yang bisa melatih semua pemuda seperti yang mereka dapatkan di tempat ini.

Bagi teman-teman yang yang mau ikut pelatihan seperti ini, dalam hal Character Building, Team work. Leadership dan Out Bound dan Latihan Pertanian dan Peternakan Selaras Alam. Bisa menghubungi TC Porlak Petrasa: Pdt.Maruasas Nainggolan (HP 081314922872), Pdt.Samuel Sihombing (HP 081361764990).

Pdt.Maruasas S.P Nainggolan S.Si (Teol)
Sekhus Kadep Diakonia HKBP

JUBILEUM 125 TAHUN HKBP SIBUNTUON RESORT BALIGE

JUBILEUM 125 TAHUN
HKBP SIBUNTUON RESORT BALIGE
By: Pdt.Maruasas Nainggolan S.Si (Teol)

Pada hari minggu tanggal 11 Juli 2010 HKBP Sibuntuon Resort Balige merayakan Jubileum 125 tahun. Perayaan ibadah syukur ini dipimpin oleh Kadep Diakonia Pdt.Nelson Siregar dan beberapa pendeta dari kantor pusat HKBP yang mendampingi adalah: Pdt.Maruasas Nainggolan (Sekhus Kadep Diakonia), Pdt.Maston Hutasoit (Biro Transformasi Sosial), Pdt Samuel Sitompul (Wakabiro Personalia), Pdt.Renitiar Purba (Kep.Biro Outrich).

Ibadah ini dimulai jam 10.30 WIB, dalam khotbahnya Kadep Diakonia Pdt.Nelson Siregar menekankan Jubileum yang menekankan pembebasan kepada orang tertindas, lemah, menderita, kemiskinan dalam budaya Bangsa Israel yang diperingati pada hari ketujuh adalah hari peristirahatan, Allah yang menciptakan Alam semesta dan segala isinya, satu kali dalam tujuh tahun mereka peringati sebagai pembebasan mereka dari perbudakan Bangsa Mesir. Dan tujuh kali tujuh pada tahun ke lima puluh adalah tahun pembebasan bagi seluruh makhluk hidup dari semua utang, pembodohan, kemiskinan, penindasan dan penderitaan.

Perayaan dan peringatan akan sejarah inilah yang membuat orang Yahudi sampai sekarang menjadi bangsa yang maju, berhasil bahkan ditakuti oleh semua bangsa. Karena sejarahnya diturunkan secara turun temurun untuk selalu diingat dan dihayati secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu dalam Jubileum 125 tahun HKBP Sibuntuon jangan melupakan generasi muda. Kita sering kali melupakan pelayanan kita kepada anak-anak sekolah minggu, remaja dan pemuda. Oleh karena itu dalam perayaan Jubileum 125 tahun HKBP Sibuntuon ini anak-anak remaja harus dilatih, dibina dan sungguh-sungguh dipersiapkan.

Sejarah berdirinya HKBP Sibuntuon tidak lepas dari jasa Pdt.Pilgram yang menyampaikan kabar suka cita dengan penuh pergumulan dan tidak mengenal putus asa mulai dari Peatalun ke Sibuntuon. Kadep Diakonia Pdt.Nelson Siregar kembali mengingatkan, betapa sulitnya kita untuk percaya dan menerima ajaran Firman Tuhan. Sekarang saja kita sulit sekali untuk diajari bahkan dibina untuk keluar dari kemiskinan, kebodohan, iri hati yang pada akhirnya kita mudah sekali terbawa isu begu ganjang seperti yang terjadi di Sitanggor Muara, yang pada kenyatannya itu tidak ada.

Inilah pengorbanan para misionar ke tanah batak, sekarang ini saja kita sangat sulit untuk diarahkan, untuk bisa percaya, memahami dan menghayati Firman Tuhan dalam kata dan perbuatan, apalagi dulu zaman para misionar. Tetapi atas kasih Tuhan kepada Bangsa Batak pada tahun 1834 Tuhan mendengarkan doa seorang ibu di tanah Amerika yaitu Ibu Pdt.Henrik Lyman yang mati terbunuh ketika misionar ini menginjili ke tanah Batak. Lahirlah Nommensen di tanah Jerman dan berhasil mengabarkan Firman Tuhan ke tanah Batak.

Dalam kesempatan bimbingan dai pimpinan HKBP Amang Kadep Diakonia juga menyampaikan ucapan syukur kita kepada Tuhan yang telah menguatkan semua jemaat, parhalado HKBP Sibuntuon yang tidak pernah berhenti untuk bersaksi dan melayani Tuhan di tengah-tengah pergumulan zaman sekarang yang sudah semakin berat, terutama persoalan ekonomi. Oleh karena itu ada baiknya kepada anak-anak rantau jemaat HKBP Sibuntuon yang sudah banyak membantu gereja terus mau membangun bona pasogit. Ada usul kalau bisa untuk membantu dan menggerakkan jemaat saat ini kita bisa meniru program yang sekarang berkembang di silindung yaitu “Pria Jantan Sejati” suatu kriteria bagi satu kepala keluarga yang akan siap dibantu. Laki-laki sejati artinya: Tidak merokok, tidak hanya dikedai, tetapi bekerja di ladang dan mau membantu isteri di dapur”. Oleh karena itu kalau anak-anak rantau yang berhasil ada baiknya kalau memberi bantuan dengan metode memberikan Rp.200 ribu/bulan kurang tepat. Kalau kita lihat sekarang untuk uang rokok satu bulan itu kurang. Oleh karena itu kalau bisa memberikan bantuan itu langsung saja sekali yang mahal tapi bermanfaat, misalnya ternak babi yang siap kawin, atau bahkan satu ekor anak kerbau. Yang kemudian ini akan digulirkan ketika beranak. Diakhir bimbingannya Amang Kadep memberikan sebuah bingkai ucapan selamat dari Ompu Ephorus HKBP Pdt.Dr.Bonar Napitupulu.

Acara ini kemudian ditutup dengan taria-tarian (martumba) dari anak sekolah minggu HKBP Sibuntuon dan penyerahan ulos kepada pimpinan HKBP yang diwakili Amang Kadep Diakonia Pdt.Nelson Siregar dan kepada semua Parhalado dan Pendeta yang pernah melayani di HKBP Sibuntuon. Tuhan memberkati pelayanan kita semua.

By: Pdt.Maruasas Nainggolan
Sekhus Kadep Diakonia

MEMBERIKAN PENGHIBURAN

MEMBERIKAN PENGHIBURAN

By: Pdt.Maruasas Nainggolan S.Si (Teol)

Amang Kadep Diakonia mengunjungi dan memberikan penghiburan kepada keluarga Guru L.Sianipar pada hari Senin 12 Juli 2010. di rumah dinas tempat pelayanannya yang terakhir HKBP Laguboti godung. Karena Guru Lesman Sianipar telah lebih dahulu dipanggil Tuhan diusianya yang berumur 53 tahun, pada tanggal 11 Juli 2010.. Meninggal lima orang, dua permepuan dan tiga laki-laki. anaknya yang paling besar sudah diterima menjadi calon pendeta di HKBP melayani di HKBP Binjae. Dikuburkan pada tanggal 16 Juli 2010. Rombongan dari Kantor Pusat adalah Pdt.Maruasas Nainggolan dan Pdt Maston Hotasoit, didampingi juga Praseses Toba Hasundutan Pdt.Armada Sitorus, Praeses HKBP Toba Pdt.Sibarani dan Pdt Resort HKBP Laguboti godung.


By: Pdt.Maruasas Nainggolan
Sekhus Kadep Diakonia HKBP

PEMBINAAN DAN PELATIHAN DIAKONIA DI DISTRIK TOBA HASUNDUTAN

PEMBINAAN DAN PELATIHAN DIAKONIA
DI DISTRIK TOBA HASUNDUTAN

By: Pdt.Maruasas Nainggolan

Pada hari Senin 11 Juli 2010, diadakan pembinaan dan pelatihan di distrik Toba Hasundutan. Pembinaan dan pelatihan ini langsung dari Amang Kadep Diakonia Pdt.Nelson Siregar dan di dampingi oleh dua orang staf yaitu Pdt.Maruasas Nainggolan (Sekhus Kadep Diakonia), Pdt.Maston Hutasoit (Biro Transformasi Sosial).
Amang Kadep Diakonia Pdt.Nelson Siregar menjelaskan ada tiga tantangan berat saat ini, yang Pertama adalah Globalisasi, misalnya dalam pertanian semua jenis buah-buahan yang kita konsumsi saat ini sudah masuk dari berbagai negara, yang sebenarnya itu sudah lama dan sudah diawetkan melalui suntikan. Contoh sederhana Ketika kita potongbuah apel, lalu kita biarkan lima menit, warna daging buahnya langsung hitam. Begitu juga dengan kacang garuda yang bersih padahal sudah di rinso. Kita lihat sekarang perkembanagan HP yang ada di anak-anak SD, SLTP yang sudah susah dibendung. Siapa yang pintar itu yang maju, yang bodoh akan dilindas dan tertinggal.
Ada sebuah tawaran sekarang, yaitu pengembangan tanaman tiung. Dengan potensi ini kita bisa kita pengaruhi pasar dunia seperti kopi lintong dan sidikalang. Gereja perlu membuat kelompok tani. Kedua adalah : Demokrasi, di mana semua bisa hancur, termasup kita karena yang jahat juga hidup. Seperti Indorayon yang semua menebang kayu bahkan tanah adapt pun habis. Kebebasan beribadah tidak ada lagi. Gereja harus kembali diingatkan, bagaimana kita semua Parhalado membina anak-anak sekolah minggu, remaja, pemuda. Karena anak-anak yang sudah dibina supaya orangtuanya juga bisa diajak untuk bisa bangkit kembali.

Ketiga adalah kebangkitan dari Karismatik dan gereja Baptis. Program Pria Jantan Sejati (tidak merokok, tidak minum-minum keras, kerja di ladang, membantu isterinya di rumah dan didapur) mereka-mereka inilah yang akan dipilih untuk latihan di bogor akan diberikan lembu bahkan bentuk pinjaman pun akan diberikan. Para ibu harus memperhatikan pola makan di dalam keluarga. Seperti halnya sayur dan buah sebagai konsumsi yang sehat buat keluarga. Kita perlu kritis. Perlu perubahan sikap dan paradigma. Yang tidak sama dengan dunia ini. Bagaimana kita menanamkan itu kepada pemikiran jemaat kita. Sehingga kita memehami kehendak dari Tuhan

Perlu adanya centre di toba sebagai pusat pelatihan dan percontohan. Kalau bisa tempatnya di Tampahan, Peatalun, Sibodiala. Kalau ada tempat tersebut maka para DPRD akan kita bawa ke sana, untuk bisa melihat dan membantu program kita. Kita harus yakin kalau kita bisa buat perubahan. Dan kita bisa bawa Ir. Fritz yang bisa menampung produksi tiung sebanyak apapun dengan harga standart, dan bahkan bisa melatih dan menyediakan bibit. Kita jual banyak tapi harga tidak jatuh tapi menetap. Tiung suatu tanaman yang tidak terlalu susah untuk ditanam. Salam Diakonia “Sejahtera Masyarakat, Sejahtera Gereja”.


By: Pdt.Maruasas Nainggolan
Sekhus Kadep Diakonia HKBP

PELATIHAN DAN PEMBINAAN DIAKONIA DI HKBP PAKKAT By: Pdt. Maruasas Nainggolan S.Si (Teol)

PELATIHAN DAN PEMBINAAN DIAKONIA DI HKBP PAKKAT
By: Pdt. Maruasas Nainggolan S.Si (Teol)

Pada hari Selasa tanggal 13 Juli 2010, diadakan pelatihan diakonia di HKBP Pakkat. Pembinaan ini langsung dipimpin oleh Amang Kadep Diakonia Pdt.Nelson Siregar, didampingi dua orang staf yaitu Pdt.Maruasas Nainggolan (Sekhus Kadep Diakonia) dan Pdt Maston Hutasoit (Biro Transformasi Sosial).

Beberapa hasil dari pembinaan dan pelatihan ini menghasilkan beberapa komitmen dan kesepakatan bersama akan mengadakan program, dalam waktu dekat mengundang Jamsostek. Selain itu mengembangkan secara serius potensi yang ada di pakkat, antara lain pohon aren yang banyak tumbuh dan kualitasnya bagus tentu bisa dikembangkan untuk membuat gula merah. Bagimana supaya gula merah itu memiliki nilai jual yang tinggi.

Amang Kadep Diakonia memberi masukan dengan memberi contoh gereja Katolik, yang memiliki seminari di siantar, setelah selesai pendidikan di siantar mereka dikirim keparapat bahkan ke tempat ini untuk selama 6 bulan berlatih dan belajar akan alam, seperti halnya menanam rotan. Masalahnya kita sebenarnya adalah belum berangkat dari hati. Coba datang ke Dairi untuk melakukan pembinaan,sebuah center bernama porlak inri. Tidak begitu jauh dari Taman Iman. Di sana kita bisa melakukan pembinaan mulai dari anak-anak sekolah minggu, para remaja yang mau malua menganai charakter building yang harus dipersiapkan mulai dari dini, dan mereka di sana bisa sama-sama belajar bagimana mencintai alam dengan mengembangkan pertanian dan peternakan yang selaras dengan alam.

Amang Kadep Diakonia melanjutkan, dulu pengalaman yang sama seperti yang ada di Dairi saat ini sudah saya lakukan dengan melatih para mahasiwa dan para pemuda dan remaja ketika saya praeses di Samosir dengan membawa mereka jalan kaki ke Pusuk Buhit. Kalau bisa mari kita kembangkan bukit klepert sebagai pusat pembinaan dan pelatihan, untuk mengembangkan segala potensi yang ada di daerah Pakkat ini dan sekitarnya.

Keluhan dari jemaat pada umumnya adalah, jemaat tidak berani untuk meninggalkan pertanian padi, dan semua kebutuhan hidup mereka hanya bergantung dari sawah. Jadi susah untuk dirubah. Amang Kadep Diakonia Pdt.Nelsson Siregar menambahkan, kita perlu dan penting untuk berubah. Bagaimana mengubah kebiasaan itu, salah satunya dengan berbagi dalam pekerjaan. Walaupun tanah kita tidak terlalu luas tapi semua yang ada di sana produktif. Ada sayur-sayuran, buah-buahan. Produksi harian telur ayam dan bebek. Setiap minggu cabe dan sayur-sayuran. Ada baiknya juga membuat Perdes (peraturan desa) untuk sepakat tidak menerima hasil dari luar yang membuat harga hasil tanaman dan ternak menurun atu murah. Salam Diakonia “Sejahtera Masyarakat, Sejahtera Gereja”.

By: Pdt.Maruasas Nainggolan
Sekhus Kadep Diakonia HKBP

MENABUR BENIH - CHANGE MANAGEMENT PARA PENDETA HKBP DAN KEPALA SEKOLAH HKBP/NEGERI

MENABUR BENIH - CHANGE MANAGEMENT

PARA PENDETA HKBP

DAN

KEPALA SEKOLAH HKBP/NEGERI

By: Pdt.Maruasas S.P Nainggolan S.Si (teol)

Menabur benih-Change Management Workshop dipersembahkan bagi mereka yang menatap masa depan dengan iman dan yang ingin mejadi “Pembuat Sejarah”

Gereja dan Bangsa.

Pada tanggal 5-8 Juli 2010 di Sopo Toba Hotel Samosir diadakan pelatihan “Change Managament” kepada 87 orang pendeta dan 47 Kepala Sekolah HKBP dan Negeri. Untuk para pendeta diadakan hari Senin –Selasa tanggal 6-7 Juli kemudian dilanjutkan guru-guru Kepala Sekolah hari Rabu-Kamis tanggal 7-8. Pelatihan diadakan oleh Departemen Diakonia HKBP kerjasama dengan Gema Kyriasa. Pelatihan ini telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Panitia yang dikordinator oleh Kadep Diakonia HKBP Pdt.Nelson Siregar dan beberapa staf Departemen Diakonia Pdt.Maruasas Nainggolan, Pdt Maston Hutasoit dan Diakones Maria Bancin dan dibantu juga oleh Inang Kadep Diakonia.

Rombongan panitia dari Jakarta yaitu teman-teman dari Gema Kyriasa adalah amang Antoni Sihombing, Henrik Silitonga, Luhut Sagala, Poltak Lumbantobing di kordinator oleh Amang Daniel Aritonang, Sekretaris Christina Sihombing-Sitompul. Bendahara Atrid Lumbantobing-Hutabarat, Sie Konsumsi Priliani Silitonga-Sianturi, Tim Doa Donda Sagala-Sitanggang. Sekilas tentang Yayasan Gema Kyriasa (YGK) seperti namanya Gema, yang artinya menggemakan, menyuarakan, menyaksikan Kyriasa (Kyrios) yaitu Kristus dan harapan. Visinya membangun manusia kristiani seutuhnya jasmani, rohani dan berakal budi. Misinya mengumandangkan kabar baik tentang keselamatan dalam Tuhan Yesus kepada semua orang dan menyelenggarakan pengajaran Kristiani, menyelenggarakan pendidikan setingi-tingginya, meningkatkan pelayanan masyarakat dan perekonomian rakyat.

Tujuan kegiatan ini adalah memberikan penghormatan dan penghargaan kepada Nommensen, dengan mencanangkan 2010 sebagai momentum kebangkitan komunitas batak melali program ISIS (Iman, Sehat, Ilmu dan Sejahtera) dengan tema “Change Management” bekerjasama dengan HKBP melalui Departemen Diakonia HKBP membentuk pola pikir yang mandiri dalam mengembangkan pelayanan sebagai pemimpin di mana pun para pelayan ditempatkan semuanya untuk memajukan Bangsa batak dan Bangsa Indonesia.

Pembicara pertama Dr.Antony Sihombing menekankan “Mengapa kita harus berubah?” dan dalam sesinya dia mengatakan Dunia ini datar, dengan mengambil contoh sederhana Piala Dunia 2010 Afrika Selatan Ratusan juta pasang mata tertuju kepada satu titik, sepakbola menjadi bahasa universal setiap orang, waktu tidak memisahkan makhluk di dunia ini, tidak ada pembatas tua muda, msikin kaya, hitam putih. Hal-hal yang mendatarkan dunia antara lain: Runtuhnya tembok berlin membebaskan semua orang dari belenggu soviet, demorasi, pasar bebas, Era internet, Konsep worl wide web, teknologi browser, kartu kredit, blackberry, walmart dll.

Pembicara kedua Amang Hendrik Sagala menekankan “Breaking Comfort Zone” If you take same action everyday you will always get the same result. If you different results you must change your action. Dengan memiliki kelompok yang bisa melihat perubahan dan ingin berubah, menyadari ada perubahan di luar, Proaktif dalam perubahan, mencintai perbaikan yang terus menerus dengan memecahkan akar masalah, memberi dampak yang positf besar, mengarah kepada tujuan. Pembicara ke tiga Amang Luhut Sagala menekankan bagaimana membantu atau menekankan segala sesuatu untuk kepentingan orang lain, Intinya manusia, Perubahan mindset dari ‘Anda butuh kami, kami butuh Anda” kita harus memilki keahliaan, sikap, pengalaman, keterampilan.

Pembicara yang keempat adalah Amang kadep Diakonia HKBP Pdt.Nelson Siregar menekenkan,” Pembaharuan tanpa membongkar tradisi. Reformasi struktural yang charity menjadi turut memberdayakan dan memperlengkapi pelayan dan warga agar mampu meujudkan visi-misi dan prinsip pelayanan HKBP yang inklusif dan transformatif. Reformasi pelayanan holistik, memajukan persekutuan kristiani yang dapat dirasakan jemaat dan berdampak terhadap masyarakat sekitar. Reformasi sikap dan nilai-nilai yang reaktip menjadi responsif menghidupkan (Joh 10.10) dan merespon masalah-masalah kemasyarakatan Epoleksosbudag. Reformasi pradigma elitis agar semua pelayan dan jemaat difahami berpotensi menjadi pemimpin perubahan.

Kedap Diakonia Pdt.Nelson Siregar juga mengatakan “Reformasi pemberdayaan institusi dan pelayan dari yang terpusat menjadi desentralis ( belum otonom ) sesuai AP. Reformasi peran merespon masalah epoleksosbudag sesuai visi, misi dan prinsip HKBP. Reformasi struktural berdasarkan fungsionalisasi tritugas panggilan, kepemimpinan yang flat, partisipasi jemaat. Pemberdayaan jemaat basis, pemberdayaan jemaat kategorial, sektoral dan fungsional. Refleksi gereja yang inklusif, transformative dan inklusif. Managerial HKBP kedepan adalah Mampu menjaga diri dari pengaruh politik praktis. Memiliki kemampuan menagerial yang baik untuk semua amal usaha, baik sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, maupun panti asuhan, usaha perekonomian rakyat, agar semua amal usaha ini dapat memajukan jemaat dan masyarakat. Memiliki program yg memberdayakan bahwa semua pelayan dan jemaat adalah pemimpin perubahan, agent of change. Memiliki program yang memandirikan dan memberdayakan seluruh potensi pelayan dan jemaat meujudkan Kerajaan Allah di bumi seperti di sorga.

Kadep Diakonia juga menambahkan “Program berkelanjutan Mendorong sgl upaya teologis dan nilai-nilai spritualitas memajukan warga HKBP menjadi warga yg inklusif, adil, menghidupkan ditengah persekutuan jemaat, masyarakat, bangsa dan Negara Konsisten memperkokoh peran sosial kemasyarakatannya yang transformatip sebagaimana sudah pernah terjadi. Konsisten memperlengkapi dan pemberdayaan SDM pelayan dan unit pelayanan warga agar menjadi garam dan terang dunia. Melakukan upaya memajukan managerial yang baik dan penuh persaudaraan di dalam Kristus. Mendorong dan mendampingi semua unit pelayanan agar mandiri, akuntable dan terpercaya. Mendorong dan memajukan semua usaha pelayanan, agar setiap kategorial, sektoral dan fungsional berperan aktif menjadi forum berkat bagi jemaat dan masyarakat. Semua usaha pelayanan harus didasarkan pada persekutuan dengan Firman Tuhan dan meujudkan kerajaan Allah di bumi seperti di sorga. Bravo Gema Kyriasa, Bravo Diakonia HKBP. “Sejahtera Masyarakat, Sejahtera Gereja.

Senin, 19 April 2010

Easter With The Nature-Sebuah Penghayatan Iman akan Makna Paskah dalam Kehidupan Nyata

Implementasi Paskah kepada Seluruh Ciptaan

Oleh : Binsar Nababan (Staff Departemen Diakonia HKBP)

“Easter With The Nature” itulah tema perayaan Paskah para pemuda Kristen di Sidikalang. Kebanyakan orang Kristen merayakan Paskah dengan suatu kegiatan gerejawi dan bahkan ruang lingkupnya juga hanya di gereja, baik melalui festival koor, cerdas-cermat Alkitab dan lomba-lomba lainnya. Lain dari kebiasaan yang ada, para pemuda-pemudi Kristen di Sidikalang mencoba menyatu dengan alam dalam merayakan Paskah kali ini.

Departemen Diakonia HKBP bekerjasama dengan Distrik VI-Dairi Bidang Diakonia serta Yayasan Petrasa, mencoba sesuatu yang berbeda dengan merayakan Paskah dalam bentuk pelatihan peternakan-pertanian organik serta penyadaran ekonomi berbasis jemaat bagi para pemuda Kristen. Dengan demikian Kematian dan kebangkitan Kristus yang diimani diimplementasikan dalam kehidupan konkret. Peternakan-pertanian organik menjadi bentuk kasih Allah kepada seluruh ciptaan melalui manusia (Kej. 2:15) dan ekonomi berkeadilan dan berbasis jemaat juga bentuk kasih Allah kepada manusia terhadap sesamanya (Mzm. 112:5; Gal. 6:2). Selain untuk kebaikan manusia itu sendiri, alam pun terhindar dari kerusakan lingkungan.

Bertempat di Training Centre Petrasa, dari tanggal 09-11 April 2010, perayaan Paskah dibuka oleh Praeses Distrik VI-Dairi, Pdt. Elieser Siregar dan diikuti tidak hanya para pemuda-pemudi HKBP, kegiatan diisi dengan ibadah, pelatihan pertanian organik-peternakan (secara teoritis maupun praktek langsung di lapangan), character building, serta Jalan Malam (sebuah upaya reflektif para pemuda-pemudi gereja terhadap permasalahan realitas sosial di tempatnya masing-masing untuk menghayati Via Dolorosa Kristus). Perayaan Paskah ini ditutup dengan ibadah di Taman Wisata Iman-Sitinjo dengan pemberian sertifikat oleh pemimpin Petrasa sekaligus Kepala Bidang Diakonia HKBP Distrik VI-Dairi, yaitu Pdt. Samuel Sihombing.

Inti dari kegiatan ini adalah menyadarkan para pemuda sebagai generasi masa depan, mampu menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah, yaitu keadilan, damai sejahtera dan sukacita kepada seluruh ciptaan. Melalui kesadaran peternakan dan pertanian yang selaras alam, kelompok ekonomi yang berbasis jemaat, dan semangat pemuda dalam kegiatan gerejanya bisa menjadi bekal bagi para pemuda bersikap kritis melihat kondisi gereja dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Dengan demikian Injil menjadi nyata bagi sesama manusia dan seluruh ciptaan Allah lainnya secara holistik.